Ekonomi Riau Tetap Tumbuh 4,89 Persen Di Tengah Tekanan Global

Pekanbaru, RiauChannel.Com – Perekonomian Provinsi Riau pada triwulan I tahun 2026 menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 4,89 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Selasa (5/5/2026).

Melansir dari laman riau.go.id, Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, menyampaikan bahwa nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau atas dasar harga berlaku mencapai Rp317,14 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp152,45 triliun.

“Perekonomian Riau pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 4,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini menunjukkan aktivitas ekonomi daerah masih terjaga dengan baik,” ujar Asep.

Ia menjelaskan, dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha jasa lainnya yang mencapai 13,87 persen.

Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,67 persen serta jasa pendidikan sebesar 10,37 persen.

“Lapangan usaha jasa lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,87 persen, diikuti penyediaan akomodasi dan makan minum serta jasa pendidikan yang juga tumbuh dua digit,” jelasnya.

Sementara itu, sektor industri pengolahan yang menjadi tulang punggung ekonomi Riau tetap menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan 6,21 persen. Sektor perdagangan juga tumbuh 6,54 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,23 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen impor luar negeri yang mencapai 66,31 persen, diikuti konsumsi pemerintah sebesar 18,36 persen serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 9,95 persen.

“Dari sisi pengeluaran, komponen impor luar negeri mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 66,31 persen, diikuti konsumsi pemerintah dan investasi yang juga tumbuh cukup tinggi,” kata Asep.

Meski secara tahunan tumbuh positif, secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Riau mengalami kontraksi sebesar 0,33 persen dibandingkan triwulan IV-2025.

BACA JUGA:  Menjelang Lebaran, Pertamina Imbau Warga Riau dan Sekitarnya Tidak Panic Buying

Asep mengungkapkan, kontraksi terdalam terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan sebesar 10,50 persen, disusul pengadaan listrik dan gas sebesar 8,21 persen serta real estate sebesar 6,15 persen.

“Secara q-to-q, ekonomi Riau mengalami kontraksi sebesar 0,33 persen. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan aktivitas pada beberapa lapangan usaha, terutama transportasi dan pergudangan,” ungkapnya.

Dari sisi pengeluaran, kontraksi terjadi pada konsumsi rumah tangga yang turun 2,06 persen dan ekspor luar negeri yang turun 6,23 persen.

Namun demikian, ekonomi Riau tanpa migas justru menunjukkan performa lebih baik dengan pertumbuhan 5,86 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,59 persen.

“Jika dilihat tanpa migas, ekonomi Riau tumbuh 5,86 persen, ini menunjukkan penguatan pada sektor-sektor nonmigas,” tambah Asep.

Secara struktur, perekonomian Riau masih didominasi oleh lima sektor utama, yakni industri pengolahan sebesar 29,44 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 27,55 persen.

Lalu, pertambangan dan penggalian sebesar 17,07 persen, perdagangan sebesar 10,26 persen, serta konstruksi sebesar 9,43 persen. Kelima sektor ini menyumbang hingga 93,75 persen terhadap total ekonomi Riau.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan porsi 33,47 persen, diikuti PMTB sebesar 31,60 persen dan ekspor luar negeri sebesar 28,53 persen.

Secara spasial, kontribusi ekonomi Riau terhadap perekonomian nasional mencapai 5,14 persen. Dengan capaian tersebut, Riau tercatat sebagai provinsi dengan PDRB terbesar keenam di Indonesia dan terbesar kedua di luar Pulau Jawa.

“Kontribusi Riau terhadap ekonomi nasional mencapai 5,14 persen, menjadikan Riau sebagai salah satu motor penting perekonomian Indonesia,” tutup Asep.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *